Kamis, 12 Juni 2014
Setelah
kejadian itu, andi berusaha mencari tahu siapa pelaku sebenarnya dari
insiden tersebut. Dua temannya, Didi dan Igor berada di perpustakaan
saat kejadian. Mereka berdua adalah murid kelas Antropologi yang
sering menjahilinya. Memang murid kelas Antropologi terkenal dengan
kenakalannya, dan mereka adalah salah satunya
@Di
Kelas
A
: (berjalan kearah Didi dan Igor dengan perasaan marah) Kalian ya
yang menyobek buku perpus!
D
n I : (kebingungan) Buku perpus?
A
: Iya, buku perpus
D
: Kami tidak pernah ke perpus, buat apa kami ke perpus
A
: Halah! mengaku sajalah! Kalian sengaja menyobek buku tersebut biar
aku yang harus ganti rugi kan
D
: Kami tidak melakukannya
A
: Pembohong!
I
: Kenapa kau tuduh kami? Kau punya bukti kah
A
: Buat apa mencari bukti, kalau penjahatnya sudah didepan mata
D
: Kenapa kau bisa menuduh kami dengan tuduhan yang tidak jelas
seperti itu?
A
: Tidak jelas? Tentu saja ini sudah jelas! Kalian menyobek buku itu
biar aku yang harus ganti kerugiannya. Mentang-mentang kalian orang
kaya ya, memperlakukan orang miskin dengan seenaknya.
I
: Hai Andi, memang kami sering jahili engkau, tapi kami juga punya
rasa kemanusiaan. Jahili kau saja sudah cukuplah. Mana mungkin kami
jahili orang tuamu juga
A
: dasar tukang dusta! Sudah jelas aku lihat kalian menyobek buku
perpus tersebut
I
: kau berani ya denganku, kau belum pernah digilas traktor ya?
D
: kami sudah bilang tidak, ya tidak
A
: pendusta!
D
: Tidak!
A
: bohong!
D
: Tidak!
I
: wah, ingin dihajar rupanya anak ini
A
: kalau kalian gak nyobek buku, apa buktinya?
D
: kami seharian main UNO bersama anak-anak disini. Ini buktinya
(menunjukan kartu UNO) kalo gak percaya, tanya saja Boni
A
: tidak mungkin! Tadi jelas aku lihat kalian menyobek buku perpus.
Aku sangat hafal muka-muka seperti kalian
I
: kau mabuk kali,
A
: tidak! Aku benar-benar melihat kalian tadi di perpus. Kenapa kalian
tidak percaya padaku sih
D
: Bagaimana kami bisa percaya padamu, kalau kau barusaja bilang bahwa
kami ada di dua tempat yang berbeda dalam waktu yang sama
I
: kau kira kami punya saudara kembar apa!
A
: sumpah! Aku tadi lihat kalian disana, Iya kalian
I
: Heh, sekarang kau pikir saja. Untuk apa kami menyobek buku-buku di
perpustakaan? Kau ini aneh-aneh saja
A
: lalu, jika bukan kalian yang aku lihat, Siapa? (sedikit ketakutan).
Ya sudah kalau bukan kalian. Aku mau ke kelas dulu
Orang
yang dilihat Andi ternyata bukan teman beda kelasnya. Didi dan Igor
merasa iba dengan Andi. Mereka meras diri mereka ikut
bertanggungjawab terhadap kasus ini
I
: Andi, kau tunggu dulu
D
: jangan pergi dulu.
A
: Ada apa ? kan kalian terbukti nggak bersalah
D
: bukan masalah itu ndi. Sebenarnya kami juga ingin tahu siapa
peniru kami itu
A
: jadi kalian mau membantuku? Makasih! (berusaha memeluk Didi dan
Igor)
I
: Ei, kau kira kita lelaki murahan apa! Main peluk peluk segala
A
: habisnya, aku seneng banget ada orang yang mau peduli denganku
(terharu)
D
: Sekarang kita cari petunjuk-petunjuknya dulu. Pertama, kita cari di
TKP awal, Perpustakaan.
Pencarian
pertama dilakukan di perpustakaan untuk mencari petunjuk siapa pelaku
dari penyobekan buku tersebut dan hasilnya adalah....
@
Di Perpustakaan
A
: ini dia rak yang berisi buku-buku sobek tersebut. Lihat kan
I
: Gilak! Banyak pula yang sobek ini
D
: coba aku lihat. Hmmm kenapa buku yang sobek punya judul yang
temanya hampir sama semua. “penjahat politik”
A
: coba lihat dalam bukunya, apa ada yang mencurigakan
D
:hmmm ada sebagian teks disini yang hilang
I
: kau tau teks apa saja yang hilang
D
: Tidak, kau Igor
I
: kau kira aku peramal? Kau saja tak tahu, apalagi saya
A
: bagaimana jika kita pinjam buku lain yang judulnya sama, terus
cocokin dengan sobekan yang hilang itu
I
: Ah, ide bagus itu.
Satu
petunjuk sudah ditemukan, masih banyak petunjuk yang lainnya yang
belum ditemukan Andi dan kawan-kawan.
A
: Dapat, aku dapat sidik jari pelaku.
I
: darimana kau tahu pelakunya siapa? Kau saja tak punya alat untuk
memeriksa sidik jari
D
: tentu saja dari mesin Fingerprint, jika peristiwa penyobekan itu
terjadi tadi, maka pelakunya pasti siswa
A
: coba lihat sidik jari ini. Terlalu lebar untuk tangan siswa.
Dibandingkan dengan jempolku saja, masih setengah dari lebar sidik
jari yang ada disini
I
: sini, mana sidik jarinya. Biar aku cek kesana
A
: ini
Masih
Mencari Petunjuk.....
D
: Andi, kau menemukan sesuatu
A
: eee... lihat kesini. Ini aneh
D
: apa yang aneh?
A
: masa ada gula didalam perpustakaan. Sudah jelas dilarang makan di
perpus
D
: berarti pelakunya orang nakal. Andi, coba kamu tempelkan telunjukmu
ke gula itu
A
: kenap.. Auw!! Apa ini! Panas sekali!
D
: Itu bukan gula biasa, gula biasa seharusnya sudah menjadi karamel
disuhu sepanas itu
A
: Lalu..
D
: aku tahu! Ndi tolong ambilkan Air kapur
A
: sebentar, aku ambilkan
Beberapa
detik kemudian...
A
: ini Di, airnya
D
: (mengambil airnya dan menyiramkannya ke gula tersebut)
A
: Di, gulanya ngeluarin asap
D
: dia seperti, .. menguap
A
: wah, kau pintar Di,kau bisa tahu kalau gula campur air kapur akan
menguap. Kesalahan besar kau masuk kelas Antropologi. Seharusnya
kaumasuk kelas kimia atau fisika
D
: Tidak, sebenarnya tidak. Letak keanehan yang sebenarnya disini.
Benda ini menguap ketika disiram air kapur, sedangkan gula basa tidak
akan bereaksi
A
: lalu, kenapa kau memilih Air kapur
D
: entahlah, hanya tebakan beruntung saja
I
: Ndi! DI!
D
: ada apa ribu-ribut?
I
: sidik jari yang kau temukan tadi tak terdaftar di instansi sekolah
ini
A
: sudah kamu coba di Fingerprint ruang guru?
I
: bagaiman aku bisa mencoba sidik jari ini, kalau sidik ini tidak
muat ke mesinnya. Percayalah, ini pasti bukan manusia
A
: sudah! Daripada kamu membuat cerpen, lebih baik kita pinjamkan ini
dulu
Kebingunganpun
terjadi. Mereka menemukan petunjuk, tetapi petunjuk yang tak normal.
Petunjuk tak normal, berarti pelaku yang tak normal juga
@Depan
Meja Peminjaman Buku
A
: permisi pak, saya ingin meminjam buku-buku yang telah sobek ini pak
PP
: Pinjam? Ambil saja buku ini, buku ini sudah tidak layak baca.
Tulisannya banyak yang hilang. Jangan lupakan denda untuk membayar
buku ini jika kamu tidak beli buku baru untuk menggantinya. Kira-kira
sekitar Rp1.050.4000
I
: Banyak benar hutang kau ndi
A
: nanti kalau saya punya uang, akan saya bayar. Kalau sekarang,saya
tidak punya uang
D
: Oh ya, kami juga ingin meminjam judul buku yang sama dengan
buku-buku yang sobek tersebut
PP
: Sebentar biar saya cek stok bukunya..... hmmmm....(mencari) nah,
ketemu! Ini bukunya
A
: terimakasih pak
PP
: ..............
Setelah
mereka meminjam buku tersebut, mereka langsung pergi dari hadapan
petugas perpustakaan. Mereka mulai menyusun kata kata yang hilang
tersebut
@
Di Kantin
A
: Coba kita lihat, tulisan apa saja yang hilang (mengeluarkan buku
yang tadi dipinjam) ini dia. Didi kau mengecek buku ini dan ini, Igor
kamu mengecak buku ini, dang aku mengecek sisanya, lalu nanti
masing-masing tulis hasilnya di kertas
D
n I : Oke
Mengecek........
dan Menulis.........
A
: bagaimana hasilnya?
D
: ini yang aku dapat, “Tanah” ; “Serahkan” ; “ dari”
I
: kalau saya ini, “Kekuasaan” ; “Akan tiba” ; “ Langit
A
: kalau aku “Pada kami” ; “Sang Destroyer”
I
: bagaimana kau menyusun semua pecahan ini
A
: sebentar, mmm.... Bumi dari Langit... Ah pusing aku. Di, kamu bisa
jawab?
D
: hmm. Munkin yang benar “Serahkan kekuasaan tanah pada kami sang
destroyer akan tiba dari langit”
I
: apa maksudnya kata itu
A
: tanah yang dimaksud, mungkin tanah yang kita pijaki ini, Indonesia
D
: Destroyer akan tiba dari langit
I
: Destroyer artinya penghancur kan?
A
: menurut aku, pengertiannya itu sang penghancur yang berasal dari
arah langit ingi menjajah indonesia
D
: sidik jari besar, bekas gula yang aneh, sobekan-sobekan
petunjuk.... (merenung)
A
: ada apa Di?
D
: kita menghadapi musuh baru yang dapat berubah wujud. Ini bukan
kasus penyobekan buku lagi. Ini berhubungan dengan intel, badan
pertahanan dan keamanan negara. Kita menghadapi serbuan ALIEN!
A
n I : Alien!!!
D
: ya, Alien
A
: huuh (menghela nafas) tenang. Sekarang kita cari tahu kemana Didi
dan Igor palsu tersebut pergi
I
: Bagaimana kalau tanya satpam saja?
D
: ide bagus igor, ayo!
Petunjuk
demi petunjuk telah dibongkar. Andi dan kawan-kawan menemukan bahwa
pelaku sebenarnya adalah makhuk asing. Andi yang semula hanya ingin
tahu kejelasan dari kasusnya, kini dibebani misi untuk selamatka
dunia!..
@Pos
Satpam, Jam pulang sekolah
A
n D n I : perimisi pak
PS
: iya nak, ada apa
I
: waktu itu bapak lihat saya dan kawan saya pergi?
PS
: Oh ya, kamu yang bapaknya meninggal itu kan
I
: Gil..(mulutnya ditutupi oleh Didi)
A
: kemana mereka pak?
PS
: kenapa ndak tanyak langsung aja?
A
: anu pak, masalahnya mereka ini punya penyakit Amnesia mendadak pak,
sampai lupa kalau bapaknya sudah meninggal
PS
: mereka berdua kemarin pergi mengunjungi ayahnya yang barusaja
meninggal di pemakaman Polehan
A
: makasih pak (pergi keluar dari sekolah)
PS
: ya hati-hati
Di
perjalanan......
I
: Gilak itu satpam! Bapak saya masih sehat bugar dirumah! Ini pasti
perbuatan Alien plagiat itu. Minta dihajar mereka
A
: sabar saja, kita pasti bertemu mereka. Di, kau sudah bawa
persenjataan?
D
: sudah! (menunjukan isi tasnya)
A
: kalau begitu, ayo
Mereka
pergi ke basis Alien tersebut dengan senjata buatan mereka sendiri.
Mereka sepertinya punya rencana sendiri untuk menghancurkan para
Alien tersebut
@
Kuburan Polehan
A
: kalian lihat tanda-tanda mencurigakan?
I
: belum. Di, senjata kita mana?
D
: Ini dia! Jeng jeng jeng jeng!
I
: kau mau setor nyawa ke Alien ya? Ini cuma pistol air
D
: tapi bukan air biasa. Ini air kapur, satu-satunya kelemahan mereka
yang aku tahu
A
: Hei! sini, aku menemukan jejak gula! Mengarah ke rumah pemakaman
itu (menunjuk kearah) Semua unit, maju! Go! Go ! Go!
@Di
Rumah Pemakaman
I
: tempatnya kok gelap begini?
A
: alah Igor, garang-garang, ternyata takut begini
D
: Semua, lihat! Tombol apa ini? Aku pencet ya
Greeek...
I
: ini pasti pintu rahasia menuju ke kediaman Alien itu. Uh,
Didi
ternyata menemukan tombol untuk menuju ke markas Alien. Bagaimana
kelanjutannya? Simak terus Drama ini
Berjalan
terus hingga menemukan cahaya, Akhirnya....
A
: itu dia basisnya
I
: (langsung meloncat daritempat tersebut dan berlari menuju ketengah
basis Alien tersebut) Dimana kau Alien? Sini Duel sama saya! Saya tak
takut sama kau!
D
: (bebisik) dasar otak udang! Dia bisa menggagalkan misi kita
A
: apa yang harus kita lakukan?
D
: karna sudah terlanjur, ayo!
D
n A : (meniru gaya masuknya Igor)jangan bergerak kalian Alien!
A
: tunggu. Dimana Aliennya
Z
: DISINI!!!
Alienpun
mulai menampakkan dirinya. Prajurit Alien mulai masuk dari segala
penjuru ruangan menyergap Andi dan kawan-kawan
I
: Ih,, jelek amat muka kau
Z
: kau berani menantang Zippo, Raja dari lima galaksi? Tak aka
kuampuni kalian. Prajurit! Serang!
D
: tunggu! Ini adalah bom air kapur! Aku tahu sbstansi penyusun tubuh
kalian tidak tahan dengan air kapur!jika kalian mendekat, akan
kuledakkan bom ini dan seluruh isi ruangan akan mati, kecuali kami
manusia.
A
: sekarang suruh para prajuritmu melucuti senjata mereka sendiri!
Kita bicaraan hal ini dengan baik-baik
Z
: Hngg.. Prajurit! Mundur!
A
: sekarang kami ingin mengajukan pertanyaan kepada raja Zippo
Z
: penguasa lima galaksi! Jangan lupakan itu!
A
: Iya, Iya. Kami sudah mengidentifikasi pesan yang kau buat.
Sebenarnya untuk siapa dan apa maksud dari isi pesan tersebut
Z
: ehem, pesan itu sebenarnya belum selesai. Lanjutannya adalah “kami
bosan melihat kau rusak sendiri tanahmu”. Kami sengaja membuat dari
tulisan buku karna kami belum banyak mengerti tetang cara menulis
tulisan bumi. Dan tulisan itu sebenarnya untuk raja di tanah ini
A
: lalu, apa maksud isi pesan terakhir itu
Z
: Kau tidak lihat apa, pemimpinmu merusak dan menggerogoti tanahmu
sedikit demi sedikit! Sebagai yang baru dilantik untuk mengatur lima
galaksi termasuk galaksu mu, galaksi putih, sudah sewajibnya untuk
membuat kebijakan demi kesejahteraan penduduk, yaitu mengambil alih
kekuasaan
D
: kau tidak bisa begitu! Invasi tidak akan merubah apapun, bahkan
justru dapat menyengsarakan
I
: benar. Yang lalu biarlah berlalu. Kau tak lihat kami kah, para
penerus bangsa? Memang banyak orang gila di DPR sana, tetap kami
bertiga yakin bahwa masih lebih banyak generasi yang jujur dan amanah
diluar sana yang akan menggantikan orang-orang gila itu
A
: Cie.. tumben perkataanmu ada maknanya
I
: kau kira kepalaku ini isinya hanya batu?
Z
: baiklah, jika kalian bilang kalian dapat mengatur tanah kalian
sendiri. Aku akan kembali ke tempatku. Untuk masalah bukumu yang
rusak itu, akan kuperbaiki dan besoknya akan kukirim via pos. Dan
untuk igor, maafkan prajuritmu karna telah menyebarkan berita palsu
I
: Hnggg
Z
: Baiklah, Prajurit! Kita pulang.
Akhirnya
raja Zippo kembali ke singgasananya dan indonesia aman dari invasi.
Esoknya Andi mengembalikan buku-buku itu. Sekaang, andi berteman baik
dengan Didi dan Igor, anak yang dulu sering menjahilinya, dan
kesehariannya Andi berubah dari yang sebelumnya hanya duduk di perpus
menjadi lebih berwarna karena teman barunya itu Didi dn Igor
TAMAT

Karya
: Eugene Ionesco
Terjemahan
: W.S. Rendra
Pusat
Pengembangan dan Penataran Guru Kesenian Yogyakarta
2004
(
WAKTU LAYAR DIBUKA PANGGUNG GELAP DAN SUNYI, KEMUDIAN TERDENGAR
SUARA)
…………………
Wahai, Wahai………………..
Dengarlah engkau dua orang tua yang selalu bergandengan, dan
bercinta, sementara siang dan malam berkejaran dua abad lamanya.
Wahai,
wahai dengarlah !
Aku
memanggilmu. Datanglah berdua bagai dua ekor burung dara. Akan
kukirimkan kereta kencana untuk menyambut engkau berdua. Bila bulan
telah luput dari mata angin, musim gugur menampari pepohonan dan
daun-daun yang rebah berpusingan.
Wahai,
wahai !
Di
tengah malam di hari ini akan kukirimkan kereta kencanaa untuk
menyambut engkau berdua. Kereta kencana, 10 kuda 1 warna.
(
EMPAT KETUKAN, SETELAH ITU NENEK MASUK DENGAN LILIN MENYALA. DUHAI
GUGUPNYA)
NENEK
: Henry, engkaukah itu ?
Henry…..
ah….
dari mana engkau sayang ?
(
NENEK BERJALAN DENGAN LILIN MENYALA, IA DUDUK DI KURSI BAGUS TANPA
SANDARAN, DAN MEMBISU )
NENEK
: (MELETAKKAN LILIN KE MEJA ) Henry, dari mana engkau ? Kenapa diam
saja ? saya mencarimu, ada apa dengan engkau ? Ayolah jangan diam
saja ? Henry apakah kau tadi yang bersuara keras ?
KAKEK
: ( MENGGELENGKAN KEPALA BAGAI TERMENUNG )
NENEK
: Sakitkah engkau ? Ayolah jangan diam saja. Nyalakan lampu
listriknya. Di kamar ini dan di kamar tidur kita saja yang ada lampu
listriknya, dikamar lain sudah rusak semuanya. Oh Tuhan…….
Alangkah bobroknya rumah kita ini. Baiklah. Ayolah nyalakan lampu
listriknya Henry.
(KAKEK
TETAP MEMBATU, NENEK LALU PERGI MENYALAKAN LAMPU. LAMPU MENYALA
HIJAU, NENEK TERKEJUT )
NENEK
: Kenapa sayang, kenapa? (MENGAMBIL LILIN KAKEK, MENARUHNYA KE
SEBELAH LILIN NENEK, LALU MEMADAMKAN KEDUA LILIN TADI) Apakah kau
sakit ? Oh, jangan membingungkan saya, apa kau tadi berteriak keras ?
KAKEK
: ( MENGGELENGKAN KEPALA )
NENEK
: Saya mendengarkan suara.
KAKEK
: Saya juga.
NENEK
: Kau juga ? Suara apa ?
KAKEK
: Suara yang dulu lagi. Aku mendengar suara yang dulu lagi.
NENEK
: Aku juga mendengarnya.
KAKEK
: Suara yang berulang kali datang.
NENEK
: Ya ! Suara yang dulu.
KAKEK
: Angin bertiup keras.
NENEK
: Ya !
KAKEK
: Lalu ketukan pintu.
NENEK
: Ya !
KAKEK
: Tapi kali ini ada tambahannya.
NENEK
: ?????
KAKEK
: Suara orang berkata. ( DIAM SEJENAK)
NENEK
: Jadi kau juga mendengarnya ? Cobalah kau katakan bagaimana
mendengar kata itu.
KAKEK
: Kita berdua mendapat panggilan.
NENEK
: Jadi kau pikir panggilan itu untuk kita berdua ?
KAKEK
: Dau orang tua yang dua abad usianya, siap lagi kalau bukan kita ?
Baru dua hari yang lalu aku merayakan ulang tahun yang ke 200.
NENEK
: Coba menurut kau bagaimana kau mendengar suara itu ?
KAKEK
: Tengah malam nanti, apabila angin mendayu dan bulan luput dari
mata. Akan datang sebuah kereta kencana untuk menyambut kita berdua.
Waktu itu aku sedang mencari-cari buku harianku di kamar
perpustakaan, lalu kudengar suara itu isinya kurang lebih begitu,
tapi aku tak tahu bagaimana persisnya.
NENEK
: Aku tahu, aku juga mendengarnya. Engkau dua orang tua yang selalu
bergandengan tangan dan bercinta, sementara siang dan malam
berkejaran dua abad lamanya.
Wahai…wahai….
Dengarlah aku memanggilmu, datanglah berdua bagai dua ekor burung
dara. Akan kukirimkan kereta kencana untuk menjemput kau berdua. Bila
bulan telah luput dari mata angin. Musim gugur menampari pepohonan
dan daun-daunan yang berpusing.
Wahai….wahai…..
di tengah malam di hari ini akan kukirimkan kereta kencana. Kereta
kencana 10 kuda 1 warna.
KAKEK
: Jadi kau dengar suaranya ? Sementara mendengar itu semua.
NENEK
: Jantungku berkeridutan, penyakit yang lama kembali lagi.
KAKEK
: Aku juga, penyakitku kembali lagi, tubuhku berkeringat dan nafasku
sesak.
NENEK
: Tahukah kau artinya semua ini ?
KAKEK
: Ya ! Malam ini kita akan mati bersama.
(HENING,
KAKEK MELANGKAH KE JENDELA DAN MEMBUKANYA)
NENEK
: Kenapa kau buka jendela itu ? Hawa di luar sangat dingin.
KAKEK
: Malam musim gugur.
NENEK
: Kau nanti masuk angin.
KAKEK
: Bintang bertebaran dan bulan nampak pucat, sebentar lagi akan
datang angin-angin itu menbawa mendung, dan mendung itu akan membawa
bulan luput dari pandang mata.
NENEK
: Tutuplah jendela itu.
(
KAKEK MENUTUP JENDELA, MENUJU KURSI PIANO, LALU DUDUK )
KAKEK
: Aku merasa kosong.
NENEK
: Angin buruk gampang membuatmu sakit, sayang.
KAKEK
: Kita terlalu hidup, dan terlalu lama memeras tenaga untuk mengisi
umur kita yang panjang ini. Berapa kali sajakah kita mengharap mati ?
Tiap datang ketukan pintu, kita berpikir, inikah saatnya ? Tapi kita
selalu salah duga.
NENEK
: Tapi kali ini kita tidak akan salah duga.
KAKEK
: Pasti, pasti tidak akan salah lagi. Setelah akan datang sungguh
saat ini, beginilah rasanya.
NENEK
: Apakah kau takut ?
KAKEK
: Tak tahu, dan kau ?
NENEK
: Tak tahu. Tapi sedihkah kau ?
KAKEK
: Tidak. Sedihkah kau ?
NENEK
: Saya kira tidak, aku tak tahu.
KAKEK
: Tak tahu, itulah jawaban yang paling tepat. Kita balon yang berisi
hawa. Tak takut, tak sedih, Cuma hawa yang hampa.
NENEK
: Sebentar lagi takkan hampa-hampa juga. Kita sekali bisa mengisi
hidup ini.
KAKEK
: Aku merasa jemu dan lesu.
NENEK
: Apa artinya kebudayaan kalau manusia tidak bisa menghibur dirinya.
KAKEK
: Aku mau membuka jendela.
NENEK
: Jangan, jangan sayang. Apakah kau akan bertingkah nakal lagi Henry
? Ah, kau terlalu banyak aku manjakan manis.
KAKEK
: Aku tidak bertingkah, aku tidak berbuat apa-apa, hidupku sudah
kosong.
NENEK
: Jiwa dan akal lebih luas dari kejemuan. Kebudayaan kita harus menag
dari kejemuan. Senyumlah sayang, senyum disaat seperti ini adalah
kebudayaan.
KAKEK
: Aku tidak mau tersenyum.
NENEK
: Menyanyi ?
KAKEK
: Tidak !
NENEK
: Baiklah engkau seorang badut. (LAKUNYA SEPERTI BERKATA KEPADA ANAK
KECIL)
KAKEK
: Aku senang jadi badut. Ingatkah kau ketika aku masih mahasiswa? Aku
pernah jadi juara lomba lawak.
NENEK
: Tentu saja, engkau badut yang manis.
KAKEK
: Manisku, aku sekarang badut.
NENEK
: Badut yang pintar, bukan ?
KAKEK
: Badut yang manja.
NENEK
: Boleh, sekarang badut yang manja ingin apa ?
KAKEK
: Saya ingin kau jadi layang-layang.
NENEK
: Ini layang-layang (MENGEMBANGKAN TANGANNYA)
KAKEK
: Uluuuuuur, tariiiiiiiiiiiiik, uluuuuuuuuuuur, tarik…………..
uluuuuuuur-uluuuuuuuur………….
Ah putus.
(NENEK
JATUH KE LANTAI, KAKEK TERTAWA SENANG )
NENEK
: ( TERENGAH-ENGAH ) Wah, badutnya nakal. (TAPI NAMPAK NENEK SANGAT
SENANG )
KAKEK
: Hihihihihihihihihihi, lihatlah aku sendiri ketawa, kaulah badut
dunia penghibur orang lain dan aku sendiri.
NENEK
: (BERDIRI) Engkau tertawa dan mukamu segar seperti buah apel. Engkau
mengalahkan kesempitan dan kekosonganmu, hiburan bukanlah pesta yang
mahal. Hiburan sejati adalah kebijaksanaan (BERTEPUK TANGAN) Badutku,
hore……….
Hore…….
(KAKEK MEMBUNGKUK HORMAT) Badut adalah raja kebudayaan (APPLAUSE DARI
NENEK)
NENEK
: Aku lelah sayang, maukah kau berbuat sesuatu untukku ?
KAKEK
: Aku selalu bersedia sayang, Abunawas selalu bersedia.
NENEK
: Tidak, engkau tidak lagi menjadi badut. Sekarang ganti jadilah
Haodini main sulapan untuk saya.
KAKEK
: Aku tidak mau. Tanganku yang tua tidak tangkas lagi main sulapan.
NENEK
: Kalau begitu jadilah pagi hari.
KAKEK
: Pagi hari manisku ?
NENEK
: Ya ! Pagi hari.
KAKEK
: Baiklah ini pagi hari. (MENGGAMBARKAN PAGI HARI DENGAN GERAK
TANGAN) Pagi hari manisku.
NENEK
: Terima kasih, hebat sekali, engkau sangat pandai, engkau mestinya
jadi jendral, kalau engkau punya kemauan mestinya kau sudah jadi
jendral sekarang.
KAKEK
: Aku bukanlah jendral, aku hanya seorang profesor yang dilupakan.
NENEK
: Tapi dulu kau pernah bergerilya, berjuang untuk Perancis. Engkaulah
adalah pahlawan Perancis, putra Jeanne d’arc.
Pahlawanku, apakah kau mencintai aku ?
KAKEK
: Aku mencintaimu dengan semangat musim semi yang abadi.
NENEK
: Cantikkah aku pahlawanku.
KAKEK
: Engkau gilang-gemilang bagai putri Zeba !
NENEK
: Darahku berdeburan, pahlawanku. Dengan hormat berbuat sesuatu
untukku.
KAKEK
: Ciuman-ciuman sudah terlalu badani, tapi………….
(MENGHAMPIRI MEJA) Akan kusajikan minuman untuk membujuk darahmu
Zeba. Tuan putrid berkenan minum apa ? (ASOSIASI SEOLAH-OLAH ADA
BENDA-BENDA ITU) Anggur dari Malaga, Wysky Scotlandia, Baounnet ?
Martini ? Atau Champagne dari Canada ?
NENEK
: (TERSENYUM)
KAKEK
: Aha,……
atau teh dari Timur ?
NENEK
: Terima kasih, ya.
KAKEK
: (BERBUAT SEOLAH-OLAH MELAYANI TEH) Aha ? Inilah cawan dari
Tiongkok, hasil karya tangan berbakat dari lembah Yang Tse Kiang
(MENGAMBIL CANGKIR). Cangkir dan cawan berhias naga. Naga-naga ini
berwarna hijau, karena disanapun hijau bagai zamrut. (MENUANG TEH).
Dan inilah the dari Assam. Tuan putri ingin gula berapa ?
NENEK
: Dua !
KAKEK
: (MEMASUKKAN GULA MENGADUKNYA DAN MEMBERIKANNYA KEPADA NENEK). Teh
dari timur untuk putri Zeba.
NENEK
: Terima kasih pahlawanku, (MINUM TEH). Lezat sekali ! Ah (BANGKIT
MENUJU KURSI GOYANG) Apakah sang pahlawan menghendaki kue-kue dan
panganan ? dan silahkan panganan ini. Ini namanya kue “Harapan
Senja Kala”
Meskipun sebenarnya tidak lebih dari kue Cherio ditambah vanili telor
dan irisan buah apel. (MENGAMBIL CAWAN) Ini juga bikinan Perancis
tanah air kita. (MENGAMBIL GARPU DAN MENYUGUHKANNYA KEPADA KAKEK) Ini
buat putra dari Perancis, pahlawan dari Orleance.
KAKEK
: Terima kasih putri Zeba (MAKAN KUE)
NENEK
: Enak ?
KAKEK
: Lezat sekali.
NENEK
: Dulu kau pernah gemar makan kue Cherio, tapi kemudian kegemaranmu
selalu berubah-ubah.
KAKEK
: Kau pernah membuat bistik dari Jerman yang lezat untuk saya.
NENEK
: Ah iya ! Waktu itu kita gemar piknik dan main tenis, kenapa kita
jadi tua.
KAKEK
: Karena bumi berputar, berputar……………….
NENEK
: Kau pintar sekali, mestinya kau jadi jendral.
KAKEK
: (TIBA-TIBA DENGAN LEMAS DUDUK DI LANTAI). Aku bukan jendral. Aku
hanyalah profesor yang dilupakan, aku sampah di buang.
NENEK
: Jangan begitu ! Ayolah ! Bangkit dari lantai.
KAKEK
: Aku orang hina, tempatku di tanah.
NENEK
: Tidak. yang di tanah cuma cacing, pahlawanku selalu berdiri di atas
kedua kaki. Engkau pahlawan Perancis, engkau pernah berjuang dan
berperang untuk Perancis, engkau pernah mendapatkan Legion d’honour,
engkau harus berdiri.
KAKEK
: Hidupku hampa dan sia-sia.
NENEK
: Putra Perancis berdirilah !
KAKEK
: Aku orang terkutuk, aku tak punya anak, hidupku 200 tahun dan tak
punya anak.
NENEK
: (TERPAKU). Dengan hormat, saya minta…………
(MULAI MENANGIS) dengan hormat sayang, dengan hormat manisku. Oh !
Kita tak boleh menangis. Bulan akan luput dari mata, kereta kencan
akan tiba, kita tak boleh menangis, kita punya kebudayaan, kita tak
boleh menangis (TIBA-TIBA) Henryyyyy mari, inilah bayi kita menangis
Henry.
KAKEK
: (MENDEKAT, NENEK MULAI BERSENANDUNG LAGU CRADLE SONG) Siapa nama
anak kita ?
NENEK
: Jean Valjan (DIBACA ZYONG VALZYONG).
KAKEK
: Jean Valjan dari Les Misserable ? Jadi ia laki-laki ?
NENEK
: Ya, laki-laki. Ah, bayi kadang-kadang membingungkan apakah ia
laki-laki atau perempuan. Lihatl;ah sayang, mulutnya seperti mulutmu.
KAKEK
: Hidungnya seperti hidungmu.
NENEK
: Cobalah dukung dia.
KAKEK
: Tak mau.
KAKEK
: Ayolah Henry. (KAKEK MENDUKUNG TAPI KELIRU) Ya Tuhan jangna begitu
(MEREBUT BAYI DARI KAKEK). La, laaaaaaaala lililililili,
lulululululu, bayi harus diperlakukan secara halus, ia sangat lemah
seperti kupu-kupu yang baru ke luar dari kepompongnya, lililililili……
lulululululu……
KAKEK
: Oh,…..
oh,…….
Oh,…….!
NENEK
: Kenapa ?
KAKEK
: Bayinya kencing !
NENEK
: Oh, oh, (RIBUT) Bayi nakal (MELETAKKAN BAYINYA DIBUAIAN) Ia nakal
seperti papanya (MENGANTIKAN POPOK BAYI). Kalau ia sudah besar ia
akan menjadi Jendral. Henry, cobalah kau sekarang menimangnya.
KAKEK
: Aku belum bisa, beri dia makan dulu.
NENEK
: Lili………li……..lulululu…….lu…
KAKEK
: Lalalalala…..lalalala…….laaaaaaaaaalala………
NENEK
: Anakku sayang, bungaku sayang, bintangku sayang, boboklah.
Boboklah, boboklah supaya lekas besar.
KAKEK
: (MEMAINKAN BIBIRNYA). Brrrrrrrrr, Brrrrrrrrrrrrrrr, brrrrrrrr, papa
pinta ya! Papa gagah ya! Papa lucu ya!
NENEK
: Kau menimang dirimu sendiri, bukan bayinya.
KAKEK
: (TETAP MEMAINKAN BIBIRNYA). Brrrrrrrrrr, brrrrrrrrrrr (TIBA-TIBA
MENINGGALKAN BUAIAN). Ah, aku sudah bosan bayinya nangis saja.
NENEK
: (PERGI DULU KE KURSI BAGUS). Sekarang kita main halma ?
KAKEK
: Malas.
NENEK
: Sekarang baiklah, kau sekarang mendongeng saja.
KAKEK
: Mendongeng apa ? Serigala dengan anggur ?
NENEK
: Tidak, sambungan yang lalu.
KAKEK
: Baiklah kalau belum bosan………
maka setelah pengembaraan yang lama itu, sampailah kita kesebuah
gerbang besi yang besar, kita telah basah kuyub. Berjam-jam,
berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan kehujanan, kita
menggigil dan gigi gemeretukkan. Ini terjadi seratus dua puluh lima
tahun yang lalu, ingatkah kau waktu kita minta dibukakan pintu, tapi
mereka tak mau membukakannya. Dibalik gerbang itu ada padang rumput,
dan ada jalan berkerikil yang menuju ke sebuah puri. Maka puri itu di
kelilingi oleh kebun dan taman, dan taman itu penuh dengan bunga
anggrek dan gladiol…….
Kita tak diperkenankan masuk, kita harus mengembara lagi, 125 tahun
lagi. Kita tiduri kota, seluruh ibu kota di dunia. New York, New
Delhi, Angkara, Peking, Madrid, Jakarta……….
NENEK
: Kota yang indah bukan ?
KAKEK
: Lambang kebudayaan.
NENEK
: Tapi London telah hancur…………
KAKEK
: London hancur, Madrid hancur, Moskow jadi padang belantara, di
Berlin tumbuh semak belukar lebat, dan tak terduga New York telah
menjadi rawa.
NENEK
: Dan Paris, manisku ? Paris yang dulu kau bela dengan senjata itu ?
KAKEK
: Dan Paris kota yang tercinta itu telah hancur, kota yang jaya itu
telah lebur manisku. Batu bata di atas batu bata telah punah.Eifel
terjungkir balik, Arc de Triumph hilang dengan jejaknya dan Noterdam
dun Paris telah terlibat oleh sangkala, hanya tinggal sebuah lagu di
kota itu.
NENEK
: Sebuah lagu ?
KAKEK
: Sebuah lagu buaian, sebuah perumpamaan.
NENEK
: Kota yang malang
KAKEK
: Kota tercinta yang malang.
(PINTU
DIKETUK KERAS-KERAS, NENEK DAN KAKEK TERKEJUT)
NENEK
: Ada tamu.
KAKEK
: Apakah bulan sudah luput dari pandangan mata ?
(KETUKAN
PINTU)
NENEK
: Bukalah pintu.
KAKEK
: Apakah itu betul-betul tamu?
(KETUKAN
PINTU)
NENEK
: Putra Perancis, bukalah pintu.
(KAKEK
MEMBUKA PINTU, TERKEJUT)
KAKEK
: Perdana Menteri !
NENEK
: Perdana Menteri ! (MENYAMBUT DENGAN GEMBIRA)
KAKEK
: Ya, Perdana Menteri. Silahkan masuk yang mulia (ABSTRAK. KAKEK
MEMBETULKAN PAKAIANYA, MEMBAWA TAMUNYA KE RUANG TENGAH ) Yang mulya
inilah istri saya.
NENEK
: Yang mulya.
KAKEK
: Maafkanlah Yang mulya, harap topinya di bawa saja, di sini tidak
ada kapstok, mantelnya juga harap dibawa saja.
NENEK
: Maafkanlah keadaan rumah ini.
KAKEK
: Semuanya sudah dimakan oleh sangkala. Rumah terlalu besar, orangnya
terlalu kecil, tambah perabot rumah sudah punah. Tinggal kami berdua
saja yang tinggal di rumah, sebagai dua ekor tikus yang pengap.
NENEK
: Matahari menjahui kami.
KAKEK
: Kami ini tikus yang tidak dikehendaki orang lagi.
NENEK
: Silahkan duduk (MENUNJUK KE KURSI BAGUS). Bagaimana ?
KAKEK
: Oh ? Paduka Perdana Menteri ingin duduk di kursi goyang. Silahkan
Yang mulya, ya silahkan. (BERHENTI SEJENAK). Kami berdua mengucapkan
terima kasih atas kunjungan paduka, yang berarti kehormatan bagi
kami.
NENEK
: Kunjungan paduka membuat kami bangga dan mendapatkan diri kami.
KAKEK
: Oh ya, betul ! Sebenarnya dulu para perdana menteri suka
mengunjungi kami. Ya perdana menteri Inggris, India, dan juga Khaisar
Jepang, presiden America, Presiden Philipina dan Sekretaris PBB
pernah datang mengunjungi kami.
Apa
? Oh ya, mereka datang meminta nasehat saya, mengenai urusan
pemerinatahan. Pengadilan, Liberalisme, ataupun perlucutan senjata
(MENJELASKAN).
Bagaimana
? Tidak, tidak……
saya tidak memberi nasehat, tak ada gunanya………
saya hanya memberi teka-teki saja.
NENEK
: Tetapi sekarang dunia telah melupakan (SEJENAK). Ia telah ditindas
roda jaman.
KAKEK
: Begitu Paduka………….
Oh ya, terima kasih, saya sangat bersuka bahwa paduka tidak melupakan
saya………..
Apa
?…….
Oooo ya, ……….
Astaga, jadi paduka pernah jadi murid saya ? Pada waktu saya di
Sorbonne ? Tahun berapa ? ….Oh
! Dan mata kuliah apa yang paduka ambil pada waktu itu? Filsafat, apa
kimia, apa sejarah ? Oh ekonomi…….
Ya saya pernah mengajar semua itu, dan juga enthnologi, dan ilmu
pasti. Ya………
saya pernah juga mengajar di fakultas kedokteran, saya menjadi dokter
bedah ketika umur saya 32 tahun (TERTAWA).
Tidak,
tidak………
saya tidak pernah jadi mantri. Saya hanya punya satu muka, sebab itu
saya tidak bisa jadi politikus. Tidak, saya tidak berpendapat bahwa
politikus punya dua muka, tapi saya berpendapat bahwa politikus punya
seribu muka.
NENEK
: Henry, jagalah lidahmu !
KAKEK
: (KEPADA YANG MULIA) Bagaimana ? Ya, ya…..
Kalau paduka marah boleh saja. Oh…….begitu,
syukurlah kalau paduka tidak marah. Paduka seorang yang baik, memang
kalau begitu paduka tidak suka bolos kuliah, bukan ? (TERSENYUM).
Paduka memang seorang yang baik, dan juga paduka tidak pernah
melupakan gurunya. Itu bagus, baiklah……..
sekarang harap diberi tahu, apakah perlunya paduka berkunjung kemari
? (BERHENTI SEJENAK). Apakah sesuatu yang bisa saya tolong……
Paduka telah tahu hal itu ? ……..
Apa ? Ya, ya kami tidak akan mengadakan pesta perpisahan……..
Apa ? Muridku yang lain akan datang ? Wah ! Manisku bagaimana ini,
sebentar lagi akan banyak tamu datang………….
Mereka ingin mengadakan pertemuan perpisahan dengan kita.
NENEK
: Ya, ya…….
Tapi rumah kita sudah bobrok, tak ada perabotan kecuali yang ada ini.
(KEPADA YANG MULIA) bagaiman Yang mulia ?………..
Ya, betul………
mereka akan berdiri, tetapi saya malu……..dan
ruang yang lain lebih buruk lagi.
(PINTU
DIKETUK DENGAN KERAS DAN BERULANGKALI)
KAKEK
: Mereka datang.
NENEK
: ?????? Mereka datang, buka pintu !
KAKEK
: (MEMBUKA PINTU DAN TAK ADA YANG NAMPAK)
(NENEK
DAN KAKEK SIBUK DENGAN PARA TAMU)
Selamat
datang Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya (ORANG-ORANG MENGAJAK BERSALAMAN).
Nah itu istriku (SEOLAH-OLAH MENGAJAK TAMU UNTUK BERSALAMAN, NELAYANI
PARA TAMU). Selamat datang, selamat malam, sayang atap rumah ini
sudah hancur, perabot sudah habis. (ORANG TERUS DATANG DAN MENYALAMI,
DAN ADA BEBERAPA ANAK KECIL). Selamat datang Tuan-tuan, selamat
datang Nyonya-nyonya, selamat datang manis, selamat datang sayang,
selamat datang mensinyur kardinal, selamat datang senator, selamat
datang jendral, selamat datang kapten………
Ahaaaaa, inilah bintang film Perancis yang paling cantik, selamat
datang. (SELAMA INI NENEK MENYAMBUNG). Selamat datang Mastro, selamat
datang, Ayooooo silahkan duduk, nyonya yang dekat kursi itu, silahkan
duduk. (MEREKA MEMAKSA KEDUANYA DUDUK). Apa saya sendiri……….
(KEPADA NENEK) Ah, bagaimana ini ? Tidak saya berdiri saja. Wah,
wah,……..
Baiklah. (MEREKA DIDORONG DUDUK DI KURSI) Bagus,bagus…….
NENEK
: Kita tidak pantas duduk Henry, biarlah mensinyur saja.
KAKEK
: Ya, jendral saja.
NENEK
: Ya, baiklah kalau kami dipaksa ! Apa boleh buat.
KAKEK
: Oh ya, saya lupa. Tuan-tuan, dan nyonya-nyonya saya perkenalkan
tamu saya yang pertama ialah……….
Paduka…….
Hei, di mana beliau tadi ? Di mana ? Oh ! Itu dia ! Wah, wah. Jadi
sudah kenal ? Maafkanlah orang tua gampang lupa.
NENEK
: Henry, ucapkanlah pidato selamat datang. Ya, ya……..
ia akan pidato nanti.
KAKEK
: Ah, tidak usah saya……….
NENEK
: Henry. Ingat etika.
KAKEK
: Baiklah………
(SEGAN-SEGAN BERDIRI DAN PIDATO DENGAN LANCARNYA). Yang mulya
mensinyur kardinal, para uskup, para guru, para maha guru, para
jendral, para senator, tuan tukang kayu, tuan penjual kelontong, tuan
tukang kebun, tuan tukang masak, anak-anak yang manis, dan ya semua
saja hadirin yang saya sayangi.
Kami
ucapkan selamat datang, saya tidak akan berpidato dengan panjang
lebar, dan sukar, karena banyak anak-anak berada ditengah kita. Maka
dari itu pembicaraan kita akan bersifat sepanjang umur saja. Sebentar
lagi bulan akan luput dari mata, angin menderu dan jam menunjukan
tengah malam. Lalu datanglah kereta kencana itu, saya berterima kasih
bahwa para hadirin telah suka datang untuk mengucapkan kata
perpisahan. Tuan-tuan , nyonya-nyonya…………………
Apa ? Bagaimana ………….
Anak-anakku ?…………..
Ah saya tidak boleh memakai kata anakku, sebab ada para menteri, para
kardinal………..
Bagaimana ? ……………….
Ah, baiklah………..
Anak-anakku………………
(TIBA-TIBA MENANGIS).
NENEK
: Kenapa sayang, kenapa ?
KAKEK
: Lihatlah…………….
Ini semua anak kita. Di saat ini setelah 170 tahun. Nanti akhirnya
diperkenankan juga kita mempunyai anak sebanyak ini, merekalah bunga
Perancis, ahli waris dari prinsip-prinsip perjuangan yang telah
kubela dengan senjata, ahli waris dari lagu cinta yang abadi. Ahli
waris yang menantang penindasan dan penjajahan……………..
Anak-anakku……….
Bapak ingin berburu bersama putra-putranya, bapak ingin bermain catur
bersama dengan putri-putrinya………….
Anak-anakku (MENANGIS DENGA HEBAT DAN KEHABISAN DAYA DAN TERTUNDUK).
NENEK
: (MEMBELAI KAKEK) Henry sayang, pahlawanku sayang…………...
diamlah, pada suatu saat saja……….
Ketika langit di timur bersinar jingga, di atas air laut yang juga
jingga, adalah seekor elang laut yang hendak terbang meninggalkan
sarang. Ia mempunyai dua ekor anak, dan keduanya menanggis semuanya,
mereka semuanya tidak suka ditinggalkan ibunya. Ibunya menerangkan,
bahwa sebentar lagi akan lapar………..
kalau lapar perut jadi sakit, dan lemas. Sebab itu ibu harus pergi ke
laut, di laut banyak ikan-ikan yang lezat denga sisik megkilat. Ibu
akan menangkap ikan-ikan itu itu untuk sarapan pagi anak-anaknya……….
Aanak-anakku berhentilah menangis …………
dan anak-anakkupun berhenti menangis…………
(TANGIS KAKEK REDA)
(PINTU
DIKETUK DENGAN KERAS)
NENEK
: Ada tamu.
KAKEK
: (BERDIRI) Siapa ? Buka pintu (PERINTAH)
(PINTU
DIBUKA ORANG DAN NAMPAKNYA ORANG-ORANG RIBUT)
NENEK
: Siapa yang datang? Siapa Kaisar?
KAKEK
: Kaisar ?
NENEK
: Apa di Perancis ada Kaisar ?
KAKEK
: Minggir semua, minggir, (SEMUA MINGGIR DAN KAKEK MENUJU KE PINTU,
IA BERHENTI, DAN KEMUDIAN JATUH KE LANTAI). Siapa tuan yangdatang
melangkah dengan cahaya gilang-gemilang ? cahaya tuan menyilaukan
mata, mata tuan bagaikan matahari tak kenal senja. Di depan tuan saya
jatuh tak berdaya…………………
Kaisar ? Bukan, ……………
Kekaisaran dari bumi.
Kekaisaran
dari kerajaan yang terang dan benar………….berlutut
……………….
Semua berlutut ntuk kaisar (SEMUA BERLUTUT, KAKEK MEMPERSILAHKAN
TAMUNYA).
Sri
baginda, hamba tak pantas mendapat kunjungan paduka, tetapi berkata
sepatah kata saja tentu akan menjadi bersih. Hamba harap diampunkan,
sebab hamba terpaksa memasukkan baginda ke dunia dosa.
Silahkan……………..
minggir, minggir Sri bagind akan duduk di kursi goyang. (SETELAH
BAGINDA DUDUK KAKEK MENGANDENG NENEK MENGHADAP KAISAR). Baginda
inilah istri hamba. Ayolah manisku, sri baginda mintakita berdiri
(KEDUANYA BERDIRI BERGANDENGAN TANGAN). Kunjungan baginda berarti
kehormatan bagi kami, lebih dari itu, suatu karunia. Ya, ya hamba
sudah menduga arti kedatangan baginda…………
ya seperti juga yang lain, memang hamba mengerti, kami telah menanti.
Demikianlah…………
bila bulan telah pudar…………..
bila angin mendayu…………
ya, bulan tengah malam pukul dua belas. Ya, hamba percaya percaya
kereta itu pasti bagus, suatu kemulyaan. Tidak, kami tidak lagi
berkisah, cahaya telah datang…………
permohonan terakhir.
NENEK
: Ya, ucapkan permohonan terakhir sayang.
KAKEK
: Oh, apa yang kan aku ucapkan ? Sri baginda inilah permohonan kami
yang terakhir.
Kaisar
dari kerajaan benar dan terang, kami mohon ampun bagi yang mulya
uskup, para jendral, para senator, para tukang kebun, para tukang
kayu, para tukang masak, para anak-anak manusia, untuk istri yang
tercinta, yang telah tua ini. Dan untuk seekor cacing tanah ialah
hamba sendiri yang hina dina.
NENEK
: Terima kasih baginda.
KAKEK
: Terima kasih sri baginda.
NENEK
: Kami mengerti.
KAKEK
: Ya, kami mengerti dan siap
NENEK
: Kami siap dan menanti.
KAKEK
: Setiap detik
NENEK
: (TIBA-TIBA)
Minggir,
minggir sri baginda akan kembali, beri hormat dan minggir.
(ANGIN
MASUK MENDERU. KAKEK DAN NENEK MEMEGANG PAKAIANNYA)
KAKEK
: Angin.
NENEK
: Angin yang menderu.
KAKEK
: Minggir, minggir……………….
Saya
mau mengantar sri baginda, beri aku jalan.
Minggir,
hai………………………..
Mengapa
kalian pergi bersama baginda ? Hai…………………
(HENING.
MEREKA TELAH LENYAP SEMUA)
NENEK
: Tutuplah pintu.
KAKEK
: (TERHENTI DI PINTU) Langit mendung dan bulan lenyap dari mata.
NENEK
: Dengan segenap kasih tutuplah pintu, manisku.
(KAKEK
LALU MENUTUP PINTU, LALU PERGI KE KURSI GOYANG, NENEK KE KURSI PIANO)
NENEK
: Apakah kau takut ?
KAKEK
: Tidak, aku berdebar-debar.
NENEK
: Perpisahan badan bukan berarti perpisahan jiwa.
KAKEK
: Kita berdua tak akan dipisahkan.
NENEK
: Henry, aku mencintaimu.
KAKEK
: Kita adalah dua tangkai mawar yang saling berbelitan, akupun
mencintaimu.
NENEK
: Ingkatkah kau pohon landen di kebun rumah orang tuaku.
KAKEK
: Pohon lenden itu manisku ?Adalah kipas raksasa yang mengagumkan.
NENEK
: Kita berdua suka membaca buku di situ, waktu itu kau sedang gila
belajar kesusastraan, kau ucapkan padaku sebuah sajak John Concord
yang bernama Huesca.
KAKEK
: Dan kau lalu mengucapkan sajak Van Ostajen yang bernama Malopee.
NENEK
: Maukah kau mengucapkan Huesca sekali lagi untuk saya?
KAKEK
: Maukah kau mengucapkan Malopee sekali lagi untuk saya ?
(NENEK
BERDIRI MEMULAI, KAKEK MENYAMBUNG DENGA HUESCA)
NENEK
: Terima kasih manisku.
(BUNYI
KERETA)
NENEK
: Dengarlah.
KAKEK
: Kereta.
NENEK
: Kereta kencana.
(TIBA-TIBA
KEDUANYA MEMEGANG JANTUNGNYA DENGAN KESAKITAN, KAKEK MAJU DUA LANGKAH
)
KAKEK
: Putri Zeba, inilah teh dari Timur. (MAJU DUA LANGKAH)
NENEK
: Inilah kue Cherio untuk putra Perancis.
(KEDUANYA
RUBUH, LONCENG BERDENTANGAN DUA BELAS KALI. LAMPU PADAM DAN
SELESAILAH SANDIWARA INI )
PPPG
KESENIAN YOGYAKARTA
29
JANUARI 2004


